Senin, 23 September 2019

MENGUNGSI KE MEDAN

Pertama kali mendengar kabar suami di promosikan (Kamis, 25 Agustus 2019) yang akhirnya berujung pada pemindahan daerah dinas, aku shock. Sebenarnya sejak awal tahun ini suamiku sudah mewanti-wanti pindah karena dia sudah dua tahun di Pekanbaru. Membahas itu aku nothing to lose. Biasa saja, bukankah semu itu belum pasti. Bisa iya, bisa juga tidak.

Tapi apa nyana, saat berita itu tiba, tetap saja shock dan sedih. Banyak yang harus ditinggalkan di kota Pekanbaru. Teman-teman dari berbagai latar belakang, lingkungan rumah, sekolah, guru-guru bahkan termasuk teman-teman dari anak-anakku. Kesedihanku semakin bertambah saat anak-anakku menolak dengan tangisan. Aku merasakan apa yang anak-anakku rasakan. Sangat. Karena itu, aku berusaha meredam kesedihan ini dan berusaha menghibur mereka hingga mereka pun menerimanya. Sedangkan aku? aku shalat istikharah, menyerahkan smeua keputusan pada Allah. Selain itu aku meminta saran dari berbagi pihak. Memang selalu ada pro kontra. Yang pro mengatakan, jalani saja semuanya dengan ikhlas insyaAllah ada kebaikan di dalamnya. Sedangkan yang kontra mengatakan, kasihan anak-anak harus beradaptasi lagi, berjauhan dengan suami bukan hal yang buruk kan? Banyak juga yang menjalaninya dan semua baik-baik saja.

Seiring berjalannya waktu, hatiku semakin mantap untuk ikut suami ke Medan. Namun, suami tak kunjung sertijab (serah terima jabatan) karena kesibukan internal. Dalam sebulan, tiga kali bolak balik ke Jakarta untuk meeting dan training. Maqil, anak keduaku yang sudah menyebar berita kepindahannya pada teman-teman sekolahnya, malah tak sabaran ingin segera pindah. Begitu juga dengan si kecil Fatih. Sedangkan aku sendiri merasa lebih tenang saat menyicil packing barang untuk pindahan nanti karena tak diburu-buru waktu.

Tanggal 2 September 2019, suami akhirnya berangkat ke Medan untuk sertijab. Dimulailah Long Distance Relationship (LDR) kami. Karena terbiasa ditinggal dinas oleh suami, aku dan kedua anakku tidak mempermasalahkannya.  Namun masalah dimulai saat asap semakin terasa pekat. Dari Medan suami menyarankan ini itu seperti menyetok susu beruang, minum madu hingga berdiam di rumah. Aku tahu, dia sangat cemas namun tak bisa berbuat apa-apa. Aku melaksanakan semua perintahnya. Bahkan untuk menghindari anak-anak bermain di rumah, kunci rumah kusimpan ditempat yang sulit dijangkau. AC di kamar pun hampir tak pernah dimatikan.

Namun asap tak bisa dicegah memasuki rumahku yang semaksimal mungkin kututup rapat. Setiap pagi, aku harus menyapu sisa-sisa abu pembakaran yang berserakan di belakang rumah. Pakaian yang kucuci dan kujemur selalu bau asap. Setiap pagi, matahari enggan menampakan sinarnya, nuansa abu-abu menyeruak di langit yang dulu biru. Kepalaku mulai terasa sering pusing. Tenggorokan sakit dan kering. Maqil, matanya selalu saja penuh kotoran dan merah. Malam ketika tidur, aku menyaksikan kedua putraku batuk kering tak henti-henti.

Hari Rabu, 11 September 2019, sekolah anak-anakku resmi diliburkan. Ketika itu sekolah yang lain sudah terlebih dahulu diliburkan. Dua hari full kami berdiam di dalam rumah. Aku sama sekali tidak pergi keluar. Kuhabiskan bahan-bahan yang ada di rumah untuk menyiapkan makanan. Saat persediaan bahan habis untuk diolah, akupun beralih memakai jasa pemesan makanan by ojek online ( terima kasih sebesar-besarnya untuk ojek online ^^).

Asap semakin pekat. Kali ini sebagian rumahku sudah terasa penuh dengan asap, kecuali kamarku yang tak henti-hentinya menyalakan ac. Kulit terasa kering, mata semakin perih serta kerongkongan dan tengorokan kian pedih. Rasa tidak enak itu kutahan karena beberapa hari lagi suamiku akan pulang ke Pekanbaru.

Qadarullah, besoknya tanggal 12 September 2019 saat bangun pagi, hatiku tiba-tiba tergerak untuk mengungsi ke Medan. Saat suamiku menelepon untuk menanyakan kondisi aku dan anak-anak, langsung kukatakan niatku. Suami setju. Dia meng-cancel tiket kepulangannya ke Pekanbaru dan akan menjemputku dan anak-anak di Bandara Kualanamu, Medan.

Siang menjelang sore bahkan hingga Malam, asap semakin pekat. Asap itu bergerak seperti orang yang membakar sampah tak jauh dari komplek, saking pekatnya. Meski dengan kondisi demikian, aku masih menghadiri undangan pengajian tetanggaku pada malam hari yang akan menikahkan anaknya. Masker melekat menutupi mulut dan hidung. Anak-anak kupesankan untuk tidak ke luar rumah. Di pengajian, aku sekalian ijin mengungsi ke esokan harinya. Pulang dari pengajian aku packing hingga larut malam. Saat tidur, aku gelisah. Entah kenapa. Sehingga saat subuh terjaga, badanku masih terasa lelah.

Penerbangan ke Medan menggunakan lion air, pukul 09.20 wib. Satu-satunya pesawat yang ke Medan hari itu. Aku sudah tiba di bandara pukul 08.30 wib. Saat memasuki ruang tunggu, tempat itu sangat padat dengan calon penumpang. Ternyata hampir semua pesawat yang terbang pagi itu delay. Bahkan aku mendengar calon penumpang yang harusnya terbang jam 6 pagi, masih belum berangkat. Di landasan, tak satupun pesawat yang mendarat. Asap sudah membatasi jarak pandang semakin pendek.

Aku berdoa pada Allah, memohon segala kebaikan. Karena dengan ijin dari-Nya, baru semua akan terjadi. Pukul 11.00 wib, satu persatu pesawat mendarat dan satu persatu berangkat menuju daerah tujuan. Begitu juga dengan pesawat yang akan aku tumpangi. Jam setengah dua belas siang aku sudah berada di dalam pesawat meninggalkan bandara Sutan Syarif Kasim II. Satu jam penerbangan aku tiba di bandara Kualanamu, Medan dan bertemu suamiku.

Selama di Medan kami terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi udara di Pekanbaru. Namun, hari demi hari kondisi semakin bertambah parah. Korban banyak yang berjatuhan. PKS (Partai Keadilan Sejahtera) menjadi pionir dibukanya posko pengungsian yang tiap hari semakin bertambah jumlah pengungsinya. Pemerintah? Entahlah. Bagaimana hendak menolong, bahkan ada pejabat pemerintah yang mengatakan kalau kebakaran di Riau tidak separah yang diberitakan :(  Kemana perginya hati nurani mereka. Sekedar bersimpati dan empati itu cukup bagi para korban. Doakan saja agar kami sabar dalam menjalani musibah ini. Kalaupun tidak mau, cukup diam. Minimal tidak membuat hati kami semakin sakit.

Kini, sudah sebelas hari aku mengungsi ke Medan. Pekanbaru-ku memasuki fase #riaudaruratasap . Entah sampai kapan semuanya akan berakhir.

Namun aku yakin, semuanya tidak lepas dari campur tangan Allah. Ada rencana-Nya yang tidak kita ketahui. Sebagaimana rencana-Nya mengirim suamiku pindah dinas ke Medan.


       


Rabu, 30 November 2016



GADO-GADO
LUPA OH LUPA

Tadinya saya tidak percaya kalau ada orang yang pelupa hingga titik klinis. Hingga akhirnya saya berjumpa kembali dengan Rien, teman SMP. Secara fisik tidak terlihat kalau penyakit lupanya sangat akut. Tapi kalau sudah berinteraksi, huh, bikin geregetan.
 Saat itu arisan teman-teman SMP di rumah saya. Hanya tinggal Rien yang belum datang. Karena sudah lebih satu jam dari waktu yang dijadwalkan Rien belum tiba juga, saya pun berinisiatif meneleponnya. Alhamdulillah diangkat. Rien bilang dia sudah sampai di toko buku, kira-kira seratus meter jaraknya dari rumah saya. Tak akan sampai lima menit dia akan sampai, begitu pikir saya. Tapi setengah jam berlalu, Rien tak kunjung datang. Kembali saya telepon. Kaget saya mendengarnya karena sekarang posisinya semakin jauh. Rien akhirnya mengaku kalau dia lupa dimana rumah saya. Olala, padahal dia sudah dua kali ke rumah saya. Akhirnya untuk menuju ke rumah saya, Rien saya pandu lewat telepon dan menjemputnya di depan toko buku, tempat pertama kali dia singgah.  
Cukupkah hanya sampai di situ? Oh, tidak. Setelah arisan selesai dan semua bubar, tiba-tiba saja Rien muncul kembali di pintu rumah saya. Saya tanya, apa ada yang ketinggalan? Dia menjawab iya, hanya saja dia lupa barang apa yang ketinggalan. Karena tak ingat juga dan saya juga tidak melihat apa-apa di ruang tamu tempat arisan berlangsung tadi, akhirnya Rien pamit untuk kedua kalinya.
Baru saja suara motor Rien menjauh, mata saya tiba-tiba menangkap sebuah kardus tidak terlalu besar di bawah kursi, agak menjorok ke dalam. Olala, ternyata kardus itu milik Rien. Dan dia datang mau mengambil itu karena ketinggalan. Dengan kejadian itu saya hanya bisa tertawa sendiri dan memikirkan waktu yang tepat untuk mengantarkan kembali kardus itu ke rumah Rien.
Lain Rien, lain pula suamiku, Uda Adi. Penyakit lupanya bermula karena kerjaan kantor yang bertumpuk. Sehingga kadang dia tidak fokus dan melupakan banyak hal.
Uda Adi bekerja di sebuah bank. Menjelang lebaran, banyak permintaan dari keluarga dan teman-teman saya untuk menukarkan sejumlah uang yang digunakan untuk salam tempel. Termasuk adik saya, Lia, yang sangat antusias menukarkan uang karena dia baru bekerja. Lia sangat semangat sekali menyambut lebaran kali ini dengan uang baru yang akan dia berikan pada keponakan-keponakannya. Dia pun mengirim sms ke Uda Adi. Dan respons yang diterima positif. Pulang kantor nanti Uda Adi akan membawakan sejumlah uang yang minta ditukar. Tapi apa daya, begitu pulang kerja, saya tidak melihat Uda Adi membawa apa-apa. Begitu saya tanya, dia langsung menepuk jidat dan berkata, sorry, lupa. Sms Lia ke delete dan dia langsung sibuk dengan kerjaannya karena besok sudah mulai libur. Gubraak. Bakalan ramai. Olala. Dan saya pun ikut-ikutan menepuk jidat.
Suatu hari, saya, Uda Adi dan anak-anak pergi ke Jambi untuk menghadiri pernikahan adik ipar. Uda Adi sudah memesan tiket pesawat pulang pergi. Sayangnya, saya tidak sempat melihat tiket itu. Begitu hajatan selesai, ada tenggang waktu dua hari sebelum kembali ke Jakarta.

Akhirnya tibalah saatnya kami pulang. Karena lokasi bandara yang tidak terlalu jauh dari rumah, Uda Adi  melakukan check in terlebih dahulu, sedangkan saya menunggu di rumah sambil mempersiapkan anak-anak. Namun setelah semuanya selesai saya bereskan, Uda Adi tidak pulang-pulang. Perasaan saya mulai tidak enak. Saya coba telepon tapi tidak diangkat. Syukurlah tak lama kemudian Uda Adi menelepon. Perlahan dia katakan kalau dia lupa, ternyata seharusnya kami pulang kemarin. Olala. Karena lupa itulah ia jadi lama di bandara karena harus membeli tiket baru umtuk kami berempat. Harganya lebih mahal pula!


Setelah membaca majalah gadis, tiba-tiba terbersit keinginan saya untuk menulis. Percikan salah satunya. Saya bisa, begitu kutanamkan semangat dalam diri saat mulai mengayunkan jemari dalam tuts-tuts netbook. Ide yang muncul tentang ikan, karena baru saja kami sekeluarga memancing di Pacet, Mojokerto. Suami sangat suka memancing dan sekarang kesukaan itu turun pada ketiga anak-anak kami. Kecipak ikan yang menari di air begitu indah terlihat. Anak ketigaku yang baru berusia satu setengah tahun selalu menjerit kesenangan melihat ikan yang menggeliat. Dalam kenyamanan tempat dan keteduhan suasana, segaris ide terang di kepalaku. Cepat kusimpan dalam memori dan segera menuangkannya saat kembali ke rumah. Meski tak seperti yang kualami, Percikan "Gara-Gara Ikan" berhasil kutuangkan dan dimuat sebulan kemudian di majalah Gadis, tanggal 19 Desember 2015- 1 Januari 2016. Penutup tahun yang mengesankan. Senang, itu sudah pasti.

Percikan

 GARA-GARA IKAN
Oleh:Puan Murhijriatul

Aku tidak suka makan ikan. Entah kapan mulainya, aku lupa. Yang jelas, begitu melihat ikan, bawaanku alergi saja. Kata mama, waktu aku kecil, saat Mbok Yem, pembantuku memberiku makan ikan, ada durinya yang ikut meluncur masuk ke mulutku, dan duri itu menyangkut di tenggorokanku.

Wajahku merah karena kesakitan. Oleh Mbok Yem aku disuruh minum air yang banyak agar duri itu lepas dari tenggorokanku, tapi tidak berhasil. Aku terbatuk-batuk, berusaha melepaskan duri yang semakin menusuk-nusuk. 

Kejadian itu meninggalkan trauma yang sangat dalam. Aku yang sebelumnya pencinta ikan nomor wahid, tiba-tiba berubah drastis jadi memusuhi ikan.
***
Kejadian siang tadi membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Ceritanya, Hari Minggu besok akan diadakan lomba memancing. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan lomba itu. Hanya saja lomba itu diadakan di pemancingan Kahuripan milik Yunita, cewek yang selama ini lagi aku incar. Aku suka dengan anak baru dari Jakarta itu. Rambutnya hitam sebahu, mirip rambut para model iklan shampoo. Hidung bangir dengan kulit putih. Walaupun nggak tinggi-tinggi amat, Yunita sangat manis.

Lusa Yunita berulang tahun ke tujuh belas. Karena hobi mancing, ulang tahunnya diadakan di pemancingan keluarga. Yang mendapatkan ikan paling besar akan mendapatkan hadiah. Aku sih senang-senang saja dengan ide itu. Nah, masalahnya setelah lomba akan diadakan acara makan-makan yang menunya nggak jauh-jauh dari ikan. Waduh!

"Udah, ikut aja, nanti pas makan-makan, kamu izin pulang, bilang aja ada janji," usul Soni.

"Kan  acara puncaknya justru setelah mancing.Ntar aku nggak bisa pedekate dong sama Yuni,"

 "Yaaa, kita kan cuma mau menyelamatkan muka kamu aja, biar nggak ketahuan kalau kamu alergi sama yang namanya ikan," Soni kesal karena aku ngeyel.

Akhirnya demi setia kawan, aku ikutan juga. Setelah mencari kado yang pas, dalam arti pas diongkos dan juga pas untuk cewek secantik Yunita, kamipun mencari umpan untuk ikan. Katanya, ikan ditempat pemancingan itu ikan Nila. Tanpa ba bi bu, aku segera mencari pelet.
***

Hari yang dinantipun tiba. Pemancingan yang luas itu terlihat sesak. Untung panitianya sudah mengatur tempat. Aku dan Soni dapat tempat yang lumayan teduh. Waktu memancing hanya dua jam. Kulihat Yuni hilir mudik menyapa teman-temannya. Meski mengenakan dres kuning sederhana, tapi dia tetap menarik.

 "Hai Bi, makasih ya bisa ikutan," sapa Yuni. Aku jadi salah tingkah.

"Jarang-jarang ultah pakai lomba mancing nih, keren banget idenya," kataku gombal.

"Ah, itu sih ide bokap. Katanya biar anak-anak mudan ggak melulu megangin gadget, tapi back to nature dan merasakan betapa nikmatnya makan ikan," kata Yuni ceria. Glek, aku menelan ludah.

"Oh iya, iya,"

"Habis mancing kita kumpul-kumpul di aula ya guys," teriak Yuni dari pengeras suara. Riuh suara menyambut kata-kata Yuni. Sesekali pemancingan itu senyap, namun ada saja teriakan gembira jika pancingnya berhasil menangkap ikan. Yuni tersenyum. Ulang tahunnya kali ini memang berbeda. Semua memang ide dari papanya yang prihatin melihat anak-anak zaman sekarang yang lebih suka makan fast food. Mereka jarang yang suka ikan, padahal ikan gizinya sangat tinggi.

"Wah, nggak menang sih, salah info sih," rutukku kesal. Ternyata aku harus memancing ikan gurame. Tak satupun ikan yang berhasil kupancing karena salah umpan.

"Langsung pulang yuk!"aku kesal sekaligus malu kalau sampai ketahuan Yuni karena tak seekor ikanpun yang berhasil kupancing.
***
"Bian, kemarin kok langsung pulang?" tanya Yuni saat jam istirahat.

"Eh, iya, kemarin kepalaku pusing," kataku berkelit.

"Oh, ya udah. Nih, aku bawakan gurame asam manis. Kita makan bareng, yuk. Aku yang masak lho." Yuni tersenyum manis. Glek.

Tanpa menunggu persetujuanku, Yuni langsung membuka bekal makanannya di mejaku. Teman-teman yang lain pada mengelilingi kami. Badanku panas dingin,  apalagi saat Yuni menyuapiku di tengah deru suara sorak sorai teman-teman yang meledek kami. Sonipun ikut-ikutan meledek kami.

Mataku terpejam. Kutelan sepotong ikan asam manis dan mengunyahnya perlahan. Mataku membuka. Nikmat. Tidak terasa ikannya. Masakan Yuni membuang traumaku selama ini,. Ternyata Yuni memfilet ikan itu dan membalutnya dengan tepung sehingga tidak meninggalkan duri yang membuatku trauma. Detik berikutnya, kulahap bekal Yuni tanpa rasa ragu karena lapar. Aku ingat, pagi tadi tak sempat sarapan.



Selasa, 07 Juni 2016


Percikan
TAHU

Aku suka sekali makan tahu. Gulai tahu, semur tahu, pepes tahu,  opor tahu, semua aku suka. Bahkan sekedar goreng tahu plus cabe rawit. Makanya aku sering dijuluki setan tahu. Ini karena setiap mau makan, harus ada hidangan tahu di meja makan.
“Maaf Non, tadi Bik Narti kesiangan belanjanya. Jadinya kehabisan tahu,” kata Bik Narti saat kutanya kenapa hari ini tidak ada suguhan tahu sebagai makan siangku. Aku mendengus kesal. Hilang sudah selera makanku.
“Kan ada ayam kecap, enak lho,” bujuk mama yang mendengar kericuhan di meja makan.
 “Malas ah, Ma,” kuseret langkahku ke kamar. Sebenarnya perutku sudah menjerit minta diisi. Tapi aku tidak berselera melihat menu di meja makan.
“Sekali-kali nggak ada tahu kan nggak apa-apa,” suara mama masih terdengar.
”Hu uh,” aku merutuk kesal. Setelah mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah, aku segera ke luar, mencari tukang gorengan. Sial, sampai setengah jam aku menunggu, tukang gorengan tak kunjung datang. Lalu kuputuskan ke  jalan besar. Di perempatan jalan besar, depan mini market biasanya ada tukang gorengan yang mangkal. Aku melonjak senang saat melihat abang gorengan sedang memasukan adonan ke dalam penggorengan.
“Bang, tahu dong lima ribu,”
”Wah, tahunya habis, Neng. Baru aja ada yang borong,” sesal Abang gorengan. Mataku mendelik. Cacing-cacing di perutku semakin meronta-ronta. Langkahku gontai saat tiba di rumah. Akhirnya kumakan juga apa yang ada di meja makan. 
“Nih Non, Bik Narti beli tahu yang banyak, biar Non Ara nggak kehabisan tahu lagi,” kata Bik Narti saat aku turun dari kamar atas. Liburan kali ini aku habiskan di rumah, membaca novel yang kupinjam di perpustakaan daerah.
”Beli dimana, Bik?” kulihat Bik Narti memasukan potongan tahu berwarna kuning ke dalam wadah plastik, mencucinya dengan air hangat. Setelah ditiriskan baru dimasukan ke kulkas dalam wadah tertutup. Kata Bik Narti dengan cara itu tahu bisa tahan seminggu.
”Ada yang jual, orangnya ganteng deh Non. Kayaknya seumuran Non Ara” Bik Narti tersipu malu.
”Idih, Bik Narti genit,” godaku. Dan Bik Narti semakin tersipu-sipu.
Gara-gara Bik Narti sering menceritakan pedagang tahu yang ganteng itu, aku jadi  penasaran juga. Minggu pagi, akupun ikut ke pasar, tepatnya maksa ikut.
Setelah naik angkot satu kali, tibalah kami di pasar. Kondisi pasar yang bau dan becek membuatku sempat urung masuk ke dalam. Bik Narti juga kelihatan cemas.
“Non, tunggu di Bakso Mang Jaja aja, biar Bik Narti yang keliling,”
“Beli tahu dulu aja, Bik,”
”Jualan tahunya dekat dengan Bakso Mang Jaja, Non,”
Udah maksa-maksain ikut Bik Narti ke pasar ternyata tuh abang-abang tahu nggak jualan. Sumpah kesal!
”Baru kali ini dia nggak jualan, Non. Bibik cari ditempat lain aja ya, Non.”
Aku mengangguk sambil makan bakso yang kupesan.
“Eh, cewek gaul, kok tumben ada di pasar?” sapa seseorang yang suaranya sangat kukenal. Aku menoleh dengan bakso yang masih ada di mulut.  
Wajah Aryo, teman sekelasku yang diam-diam aku sukai terlihat di depan mata. 
”Kamu ngapain di sini?” tanyaku setelah kutelan bakso yang di mulutku.
"Gue lagi jualan tahu, gantiin bokap yang lagi sakit!”
”Huek!” kali ini bakso yang kumakan nyangkut di tenggorokan.
”Hahaha...cewek gaul ternyata ngebaksonya di pasar. Kirain cuma kenal kafe doang,”
”Non, Bibik tadi beli tahu sutra dan Bandung aja,” tiba-tiba Bik Narti sudah muncul di sebelahku.
”Nggak apa-apa, yuk langsung pulang, Bik!”
”Eh, inikan tukang tahu yang sering Bibik ceritain, Non. Kok hari ini nggak jualan, Bang?” seru Bik Narti saat melihat Aryo.
“Saya tadi antar pesanan tahu dulu Bik, jadi baru mau jualan sekarang,”
 ”Bang, Non Ara penasaran banget sama abang sampai maksa ikut Bibik ke pasar buat ketemu abang tahu ganteng langganan Bibik. Tapi kayaknya udah pada kenal ya.”
Wajahku bersemu merah mendengar celotehan Bik Narti. 
Sedangkan Aryo tersenyum-senyum.
”Apa sih Bik, bikin malu aja,” kutarik tangan Bik Narti untuk pulang. Jantungku masih berdegup kencang. Dari jauh masih kudengar tawa keras Aryo.

Depok, 29 Desember 2015
Dimuat di majalah gadis 28 Februari-12 Maret 2016

Minggu, 02 Februari 2014

ALLAH MENUNJUKAN KUASA-NYA

Rasanya sebuah kenekatan disaat udara yang tidak menentu hingga hujan yang terus mengguyur Depok, Dewan Kemakmuran Masjid Nurul Iman memutuskan untuk mengadakan acara Maulid Nabi. Bukan acara Maulid Nabi-nya yang aneh, tapi lokasi yang direncanakan justru di lapangan terbuka bermandikan langit malam. Tempatnya pun berjarak kurang lebih 100 meter dari masjid.

Maka tak heran jika pro kontra pun bermunculan meski akhirnya rencana awal tetap diteruskan dengan pertimbangan tempat tetap di udara terbuka, hanya saja berpindah, tepat di perempatan masjid. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi buruknya udara seperti hujan yang berkepanjangan dan deras yang masih saja tak bosan membasahi Kota Depok.

Rasanya doa tak putus-putus dipanjatkan panitia yang terdiri DKM Masjid Nurul Iman, Ketua RW, Ketua PKK RW, Ketua RT 1-7 RW 013, Ketua PKK RT 1-7, Ketua Majlis Taklim RT 1-7 dan Ketua Majlis Taklim tingkat RW beserta semua anggota baik tersirat maupun tersurat agar saat acara hujan tak turun. Apalagi acarapun dibuat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan menampilkan 14 penceramah. Wow, rasanya menunggu saat acara itu tiba diliputi kecemasan luar biasa. Dan memang tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa setelah berikhtiar luar biasa.

Sehari menjelang acara, tenda tempat acara pun dipasang dengan ditemani gerimis halus yang tidak henti sejak pagi. Udara begitu sejuk dan  dingin. Check sound system pun terus terdengar dari dalam masjid. Usai tenda dipasang, music islamipun berkumandang. Semarak rasanya.

Hari H pun tiba, tanggal 1 Pebruari 2014. Mentari mulai bersinar, masih sejuk seperti hari-hari yang lalu. Perlahan tapi pasti Sang Surya terus merayap naik bahkan mampu mengeringkan pakaian-pakaian yang terkukung lama di dalam rumah. Meski ada rinai yang turun, namun hanya sesaat. Matahari tak pernah lama bersembunyi di balik awan.

Panggung tempat acara berlangsungpun didirikan. Anak-anak berlarian seakan ikut bergembira karena dapat dispensasi bermain lebih lama di luar rumah. Angin bertiup perlahan hingga langit pun mengelam menuju malam.

Allah Maha Kuasa. Ketakutan acara berjalan tak sesuai harapan tak terjadi. Malam bertabur bintang-bintang. Masyarakat, mulai anak-anak; ibu-ibu hingga bapak-bapak; membanjiri jalanan tempat acara berlangsung. Angin pun tak bertiup. Semua terasa damai.

Acara yang dimulai jam 8 malam itupun berakhir hingga jam 12 malam. Saat mata tak tahan untuk terpejam, acara usai. Desahan syukur senantiasa terdengar. Hujan tak turun, bahkan rinai pun enggan mengganggu. Setelah panitia membereskan pernak pernik acara dan kembali ke rumah masing-masing, terdengar rinai menyambut di susul hujan yang mulai deras. Allahu Rabbi, Kuasa-Mu sungguh tak bertepi. Tak mungkin semua itu terjadi tanpa campur tangan-Mu. Engkau yang menurunkan hujan, Engkau pula yang menghentikannya.

Satu hari usai acara, hujan terus mengguyur bumi. Depok pun kembali dirudung dingin yang tak bertepi.

Depok, 2 Pebruari 2014

Kamis, 23 Januari 2014

Buatnya gampang kok, yang nggak biasa masak juga dijamin sukses deh bikinnya, asal ada niat :D. Enak untuk hari hujan (mentang-mentang sekarang musim hujan) atau untuk sarapan pagi. Saya biasanya membuat ini kalau kebetulan lupa punya pisang eh keburu matang. Biar jadi bernilai buat lidah, yang diolah dikit, eng ing eng...enak:D

GODOK PISANG
Bahan:
5 buah Pisang tanduk. uli/raja/ kapok yang sudah kematangan.
2 sendok gula pasir atau sesuai selera
1 butir telur
1/4 tepung beras
1 bungkus vanili
garam 1/4 sendok teh
Minyak untuk menggoreng

Cara membuatnya:
Hancurkan pisang dengan ditekan-tekan pakai sendok. Masukan telur, gula, vanili dan garam. Setelah tercampur masukan tepung beras. Uleni hingga tercampur semua bahan. Goreng sedikit demi sedikit. Enak disantap saat panas.

Hujan-hujan rasanya tidak enak kalau tidak menyantap sop. Kali ini, saya mengolah sop ayam, selain mudah membuatnya, anak-anak juga suka (anak-anak apa sih yang nggak dia suka :p). Sop ayam juga kaya gizi dan menghangatkan tubuh karena kaya rempah. Oke deh, stay tune aja dulu. Eits, kalau resepnya ada yang beda, sah-sah aja ya soalnya kan resep pribadi :D. Saatnya berbagi...

SOP AYAM
 Bahan:
1/2 ekor ayam, potong 8 atau 10 atau sesukanya termasuk ceker
1 buah wortel, potong bulat 1 cm
1 buah kentang ukuran sedang potong 12 bagian atau sesuai selera
2 buah daun bawang, iris 1 cm
daun seledri secukupnya, ikat
3 siung bawang merah, iris, goreng, sisihkan
1 buah bawang Bombay ukuran kecil
2 cm kayu manis
3 buah cengkeh
3 buah kapulaga
1,5 lt air

Bumbu halus:
10 butir merica bulat
5 buah bawang putih
garam secukupnya

Cara membuatnya:
Rebus ayam hingga air tinggal 1 lt bersama sedikit garam, kayu manis, kapulaga dan cengkeh. Masukan wortel, kentang dan daun seledri. Masukan bumbu halus yang telah ditumis ke dalam rebusan ayam. Setelah matang matikan api. Sajikan sop dengan daun bawang dan bawang goreng.

Rabu, 07 Maret 2012

CELOTEH ANAK

MAMA, AMMAR MAU PUNYA SAYAP

Ammar pintar sekali makan. Apapun yang saya masakkan selalu dia lahap. Mungkin karena itu otaknya mampu berpikir kritis. Meski begitu saya tidak pernah lupa memberinya vitamin. Vitamin yang saya berikan berupa pil seperti permen. Saking sukanya sama vitamin, dia hafal sekali jam-jam pemberian vitamin. Suatu hari Ammar berkata,
”Mama, Ammar mau punya sayap!”
”Oh, ya. Memangnya kenapa Ammar mau punya sayap?”
”Supaya Ammar bisa terbang. Kan kalau Ammar bisa terbang, Ammar bisa ambil vitamin,” katanya sambil melirik vitamin yang selalu saya letakkan di atas lemari.
 Saya hanya tersenyum. Kukira hanya karena vitamin saja Ammar ingin bisa terbang. Lain hari ternyata keinginan itu dia lontarkan kembali.
”Mama, Ammar mau punya sayap. Belikan ya, Ma.”  Kali ini sambil merajuk. Tangannya mengibas seperti sayap.
”Mau beli di mana?”
”Di pasar.”
 Saya berpikir sebentar. Mau menyampaikan kalau manusia ditakdirkan tidak bisa terbang, tidak seperti burung. Namun urung karena Ammar sudah bermain kembali. Besoknya saya lihat Ammar menggerak-gerakkan badannya laksana seekor burung.
”Wak, wak, aduh, sayapku patah!” teriaknya sambil berpura-pura terjatuh dan kesakitan. Ternyata dia sedang memperagakan gaya Falcona, burung elang di film Paddle Pop Elemagika. Lain waktu dia membelitkan sarung di leher hingga membentuk sayap yang dimiliki batman atau superman. Kubiarkan saja proses imitasi tersebut, berharap dia lupa akan keinginannya mempunyai sayap. Namun suatu hari kulihat Ammar, sulungku yang berumur 4 tahun, termenung. Dia tidur-tiduran saja di kamar. Tidak ada suara dan gerakannya yang lincah yang setiap hari terdengar. Pelan kucoba mendekati.
”Anak Mama kenapa sih, kok diam saja?” tanyaku lembut. Ammar melirik, sekilas. Selanjutnya dia masih asyik dengan guling dan bantal.
”Benar nih mama nggak boleh tahu?” tanyaku memancing. Ammar memang terbiasa bercerita padaku. Jadi aneh kalau dia bisa memendamnya lama-lama. Aku langsung bangkit dan hendak beranjak keluar kamar.
”Mama!” Tuh, kan. Aku tersenyum, tak jadi melangkah.
”Superman kan manusia tapi kok bisa terbang. Batman juga. Ammar mau juga dong ma, biar Ammar bisa nolongin orang-orang.”
Wah, masalah sayap lagi nih, batinku.
“Ammar, superman dan batman itu hanya ada di film-film. Tidak ada manusia yang punya sayap. Allah hanya menciptakan bangsa burung yang memiliki sayap untuk memudahkan mereka mencari makan dan bertahan hidup.” Ammar mengangguk. Aku tidak tahu apakah dia paham atau tidak.
”Kalau Ammar mau menolong orang tidak harus punya sayap. Ammar kan bisa kasih uang ke pengemis atau infak ke masjid.”
Iya ya Ma, mereka kan kelaparan. Kalau Ammar nolongin mereka kan nanti disayang Allah. Kali ini aku hanya bisa mengangguk, terharu.
Depok, 7 Mei 2011
By: Mama Ammar

Selasa, 06 Maret 2012

CERPEN

JADIKAN AKU SAHABATMU

            Pedih. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk melukiskan suasana hatiku sore ini. Sore yang syahdu dengan  gerimis yang perlahan turun membasahi jalanan berdebu. Menyebar bau tanah yang menusuk bulu-bulu hidung. Membasahi pohon-pohon yang kokoh berdiri ditempatnya. Membasahi atap-atap rumah yang memainkan irama lembut. Indah jika dimaknai dengan cinta. Tapi semua keindahan itu raib bersama duka yang kini menghuni perasaanku. Mengharu biru dan bersemayam disudut hatiku yang paling dalam.
            “Assalamu’alaikum…tok…tok…tok!” kuketuk perlahan pintu rumah yang tertutup rapat. Sunyi. Aku gelisah. Angin dingin terus saja menyusup, menembus pori-pori kulitku. Aku menggigil.
            “Assalamu’alaikum…!” . Tak ada jawaban. Tapi aku yakin ada orang di dalam. Pintu pagar yang tidak dikunci menguatkan keyakinanku. Suasana rumah begitu sepi, lampu luar pun tidak menyala. Sebuah ide tiba-tiba melesat di kepalaku.
            Kriing…kriing…kriing… bunyi telepon terdengar menjerit dari dalam rumah.
            Klek…terdengar suara pintu di buka.  Langkah kaki  menuju  telepon.
            Ups…hampir saja aku terbawa suasana. Kumatikan segera ponselku sebelum telepon dijawab.
            “Assalamu’alaikum…tok..tok..!” kukeraskan suaraku. Kali ini aku bersaing dengan hujan yang semakin deras.
            “Wa’alaikumsalam, sebentar ya…!” akhirnya…
            Aku bersandar pada dinding yang juga sudah terimbas hujan, dingin dan lembab. Pandanganku menelusuri halaman rumah Uni Ermi, sepupu Santi yang lumayan luas. Tanaman apotik hidup banyak menghiasi setiap sudut halaman. Pohon Sirsak berayun-ayun mengikuti irama angin. Bunga-bunga mawar merunduk menyambut limpahan air dari langit. Aku mengeratkan dekapanku. Sweaterku sudah basah sebagian.
            Klek…handle pintu bergerak ke bawah, tak lama...
            “Ya Allah, Nina…masuk-masuk, sudah lama? Aku buatin susu dulu ya atau mau ganti baju atau…!” wajah Santi tampak khawatir.
            Aku menggeleng.  Mataku memanas. Terenyuh.
            “Ke kamarku dulu ya, aku mau bikin minuman!” Santi  tersenyum. Langkah-langkah lincahnya yang kerap kulihat di kampus beranjak menuju dapur. Tak lupa dia hidupkan lampu ruang tamu yang semula gelap.
            “Sudah lama di luar?” Santi membawa dua gelas minuman. Salah satunya disodorkan untukku. Aku tidak menjawab. Kunikmati uap panas dari susu coklat. Kami sama-sama membisu. Meoong…gubraak…Kami sama-sama terkejut dan kemudian tertawa.
            “Puuus!” Santi berteriak . “Bikin kaget saja.  Eh, udah jam berapa ya?” tiba-tiba Santi tersentak dan melirik weker kuning gadingnya.
“Astaghfirullah, jam lima. Aku shalat Ashar dulu ya!” Santi bergegas bangkit dan tergesa ke kamar mandi.
             Perlahan sekali kubuka jilbabku yang basah dan kugantung  di dinding bercat putih. Kamar Santi  terlihat artistik. Aneka benda daur ulang menghiasi meja belajarnya  yang tidak pernah rapi. Di ujung meja, dalam pigura kayu berukiran halus, terpampang foto kami berdua. Saat itu kami baru pulang demo di gedung  DPRD. Entah angin dari mana tiba-tiba terbersit keinginanku untuk foto berdua dengan Santi. Padahal saat itu kami berkeringat setelah berjalan cukup jauh dari kantor gubernur ke kantor DPRD bersama iring-iringan mahasiswa yang lain. Untung saja di tasku selalu tersedia baby powder. Lumayanlah untuk menyapu wajah kami yang berminyak di siang yang cukup terik.
            “Hai, melamun!” tepukan lembut di bahuku membuat semua memori yang sedang bermain di anganku pupus. Aku terkesiap.
            “Biasa deh…!” Aku pura-pura ngambek.
            “Kenapa sih dari tadi manyun terus, jelek tau!” Santi melompat ke atas tempat tidurnya. Didekapnya bantal guling bersarung hijau lumut.
            “Uni Ani, San…, aku nginap sini ya?” Aku menatap wajah oval di hadapanku. Santi  menatapku sesaat dan kemudian mengangguk. Dia memang sudah paham semua masalahku.
“Boleh, kita kerjain PR Akuntansi Biaya ya…?” Aku mengangguk. Sebelum berangkat tadi walaupun dalam keadaan gamang, aku masih menyempatkan diri menyiapkan tugas untuk kuliah besok.
            “Uni kemana, San?”
            “Ketempat tugas uda di Bukit Tinggi. Untung kamu datang, jadi aku ada teman!” Santi tertawa.
            “Kamu kayak nggak punya beban ya San, ketawa terus!” Aku mencubit hidung mancung Santi.
            “Adaaow…!”
***
            Aku mengambil  bangku di sudut. Salah satu pelarianku kalau sedang sedih. Dari balik jendela, mataku bisa leluasa memandangi ulah mahasiswa yang bersliweran di sepanjang koridor. Pandanganku jatuh pada rumput-rumput hijau yang tertata rapi dan sebuah bangku taman  yang meringkuk indah ditengah-tengahnya.
            “Ninaaa…!” aku menoleh kearah suara yang amat kukenal.
“Idih, manggilnya kayak aku jauh,”
 Santi tertawa.
            “Rajin banget, pagi-pagi udah datang!” seru Santi.
            “Kamu aja yang malas, kuliah udah mau mulai baru datang !”
ujarku sewot. Santi kembali tertawa. Giginya yang putih berderet rapi .
            “Kebablasan, tadi malam ngobrol sama uni sampai lupa waktu!”
            “Hidup kamu enak ya, ceria!” ujarku pelan. Aku iri melihat jalan hidupnya yang jauh dari masalah. Sedangkan aku…
            “Nin, jangan mulai lagi deh!” Santi menatapku kecewa. Aku mengalihkan pandangan keluar. Kupejamkan mata yang mulai memanas. Dalam gelap aku bisa melihat putaran film kehidupan yang kulalui. Sebuah rumah besar di sebelah timur kota Padang yang tidak pernah sunyi dari pertengkaran. Rumah itu tidak seperti yang orang lihat, terasa sempit bagi penghuninya. Pertengkaran demi pertengkaran terus menghiasi hari demi hari. Uni Ani, kakak keduaku sering berteriak-teriak. Dia mengatai-ngatai mama karena suaminya tidak diijinkan lagi  tinggal bersama kami. Suami Uni Ani hanya tersenyum sinis melihat pertikaian ibu dan anak. Uni membanting-banting piring. Mama berteriak-teriak ketakutan sambil berlari keluar rumah. Papa hanya bisa meneteskan air  mata. Lelaki yang dulu gagah itu hanya mampu menatap kelakuan anak kesayangannya  itu memaki-maki dirinya yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi sejak stroke menyerangnya. Suami Uni Ani tersenyum,  menyeringai bak serigala. Aku benci. Dadaku bergemuruh menyaksikan mama dan papa dihujat oleh anaknya sendiri. Anak yang dibesarkan dengan limpahan kasih sayang. Anak yang diistimewakan dari enam orang saudaranya yang lain. Air mataku kembali menetes. Segera kukejar mama dan membawanya dalam pelukan. 
            “Nin…!” aku menoleh. Butiran embun kurasa masih ada di sana, disudut mataku. Santi merangkulku. Gadis yang sangat mengerti dukaku. Gadis yang senantiasa menjadi acuanku dalam bersikap sebagai manusia dewasa.
            “Jangan cengeng ah, katanya mujahidah!” Santi melepaskan rangkulannya. Teman-teman yang lain sudah pada datang.
            “Sabar ya,” tuturnya lembut. Aku merasa nyaman di samping Santi. Dukaku berangsur-angsur pulih jika didekatnya. Santi mengambil posisi di sebelahku. Kami bisa saling bercerita, karena kuliah  jam ini sangat membosankan.
***
            “Assalamu’alaikum…!”
            “Wa’alaikumsalam…masuk yuk San!” seruku begitu melihat sosok sahabatku di pintu pagar. Hari Minggu yang cerah setelah beberapa hari ini hujan melanda kota Padang. Awan putih bagaikan untaian kapas di cakrawala yang merayap perlahan menebarkan kesejukan. Pagi ini aku sibuk membersihkan bercak-bercak tanah yang mengotori lantai keramik putih teras rumahku. Hujan menyisakan lumpur di mana-mana. Sinar matahari jam sepuluh pagi terasa sehat di kulit.
            “Sibuk?”
            “Enggak, ini sih kerjaan sehari-hari. Ponakanku bandel-bandel, bikin kotor terus!” ujarku.
            “Di kamar aja ya!” aku segera menuju kamar. Suami Uni baru keluar dari kamar. Matanya merah karena baru bangun tidur. Dia menyapa kami, namun kusambut  dengan senyuman tipis. Di ruang tengah langkahku terhenti oleh suara keras.
            Den indak amuah tau, bagi warisan kini atau ama tse nan pai dari siko!” nada amarah memenuhi ruangan 3x3 meter. Langkahku semakin cepat untuk menghindari suara-suara keras itu. Tapi tetap saja suara itu memenuhi gendang telingku. Santi hanya terdiam.
            “Masuk aja, maaf ya kamarku berantakan!” aku berusaha tersenyum. Namun tak urung mataku berkaca-kaca.           
            Aku tak sanggup berpura-pura. Dadaku turun naik menahan isakan. Santi membawaku dalam pelukannya.
            “Aku…aku…tidak sanggup lagi, San!” suaraku tersekat. Mataku semakin panas. Air mataku berhamburan keluar. Santi membisu. Namun wajah itu pun kulihat sendu.
            “Sabar, Nin, innallaha ma’asshobirin!” tutur Santi pelan. Tangannya membelai-belai punggungku. Aku berusaha kuat. Kuhapus dengan kasar butir-butir air mata yang selalu membuatku kelihatan  cengeng. Kupeluk bantal dan kutelungkupkan wajahku perlahan. Suasana hening.
            “Kita mulai belajar ya…!” Santi  berusaha mencairkan suasana. Aku mengangkat wajahku. Mukaku sembab. Aku menggeleng.
            “Kayaknya kita tidak bisa belajar di sini. Uni kalau sudah marah bisa seharian,” aku memasukan buku untuk ujian besok ke dalam tas. Santi hanya diam menunggu.         “Kita ke masjid ya, di sana lebih tenang buat belajar!” aku bergegas keluar diikuti Santi. Aku merasa bersalah padanya. Rencananya kami akan membahas soal-soal intermediate. Besok hari pertama kami ujian semester. Beribu permasalahan di rumah membuat konsentrasi belajarku agak terpecah.
***
            “Hai!” tepukku kasar. Santi menoleh. Matanya sedikit memerah. Santi mencoba tersenyum.
            “Kenapa, San?” tanyaku hati-hati. Tidak biasanya wajah Santi sedikit muram. Masalah nilai rasanya nggak mungkin. Kemarin aku baru melihat KHSnya, IPnya 3,29, bukan sesuatu yang patut disesali.
            “Kita ke kafe MIPA yuk…!” ajakku. Santi mengangguk tanpa berusaha menjawab. Kami berjalan beriringan menyusuri koridor kampus. Mahasiswa banyak yang duduk-duduk di lantai, hanya beralaskan selembar koran. Menikmati  kue kecil yang dijual amak-amak.
            “Duh, bete  deh kalau kamu diam!” Aku mulai hilang kesabaran. Tadinya aku mau cerita banyak ke Santi tentang perubahan di keluargaku. Uni Ani sudah pergi ke Lampung bersama suaminya. Mama sudah membagi warisan yang menjadi hak Uni. Tadinya aku tidak terima karena warisan baru bisa dibagikan kalau orangnya sudah meninggal. Tapi mama berusaha menenangkanku, katanya ini untuk kebaikan semua. Sejak pertengkaran-pertengkaran masalah warisan, sakit papa semakin parah. Kami tidak kuasa menyakiti lebih dalam lagi  pahlawan keluarga yang dulu selalu menghujani kami dengan limpahan materi. Uni mendapat sawah dan tabek yang langsung dijualnya. Uangnya langsung mereka bawa ke Lampung, katanya untuk usaha. Kini tidak ada lagi suara-suara melengkingnya yang senantiasa terdengar melawan mama dan papa.  Tidak ada lagi suami Uni Ani yang kerjanya hanya tidur-tiduran, yang tiap hari hanya menghasung Uni untuk meminta warisan pada kedua orangtuanya yang belum meninggal.
            Namun, keceriaanku juga sirna. Aku kadangkala kangen dengan ketiga keponakanku. Mereka sudah mampu memberi ruang kerinduan di sudut hatiku. Aku  kasihan jika mereka di sana tidak diajarkan mengaji dan shalat. Selama tinggal bersama, aku berusaha mendekati makhluk-makhluk kecil itu. Kurengkuh mereka jika pertengkaran-pertengkaran mulai terjadi. Kuajak mereka ke surau untuk mengaji dan berlatih shalat berjamaah. Aku rindu dengan wajah imut mereka.  Tidak bisa kubayangkan jundi-jundi itu akan berkembang seperti apa nantinya dengan kedua orangtua yang tidak pernah peduli pada agama. Begitu banyak yang ingin kuceritakan…
            “Pesan apa, San?’ kutatap mata yang kosong itu. Santi terkesiap. Aku tahu kalau dia tadi melamun.
            “Gado-gado aja, Nin!” ujar Santi pelan. Aku menatapnya curiga. Santi  membuang pandangannya ketempat lain.
            “Santi…aku mengajakmu ketempat ini karena ingin makan pempek!” ujarku berhati-hati. “Disini tidak ada gado-gado!”
            “Terserah!” jawaban singkat yang tidak kuperkirakan sebelumnya. Aku segera beranjak memesan makanan kesukaan kami berdua. Aku tidak ingin berlama-lama larut dalam kediaman Santi. Mahasiswa MIPA hampir seluruhnya  datang ke kafe. Kalau tidak cepat, aku takut tidak kebagian.
            “Dimakan San, jangan didiamin aja, nanti keburu dingin, nggak enak!” aku memasukan potongan demi potongan pempek kapal selam ke mulutku. Santi makan dalam diamnya.
            “Nin!” suara Santi terdengar pelan. Aku mengangkat wajahku, menunggunya bicara kembali. Santi mengaduk-aduk teh botol yang juga dipesannya.
            “Kamu hebat ya, kuat!” ujar Santi tiba-tiba. Santi berusaha tersenyum. Tapi kurasa itu hanya upayanya untuk menutupi resah yang bermain di matanya. Aku mengerutkan kening, berusaha memahami arah bicaranya.
            “Aku ingin cari kos, tolong carikan ya…!” Santi menatapku penuh harap. Aku segera mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut. Tapi nalarku segera berjalan.
***
            “Hai…!” kepalaku melongok kedalam kamar Santi. Seperti biasa, kamar itu berantakan dengan pernak-pernik kesayangan Santi. Santi menyambutku dengan senyuman.
            “Darimana?” tanya Santi. Tangannya sibuk melipat baju-bajunya yang baru kering dari jemuran.
            “Dari rumah, kangen aja mau main kesini!” aku segera menuju tempat tidur Santi, meraih gulingnya yang bersarung hijau lumut.
            “Dapat salam dari mama, katanya kok kamu jarang main ke rumah lagi?” aku menghidupkan kipas angin mungil. Santi lagi-lagi tersenyum.      
            “Aku mau ke rumah kamu kalau kamunya yang masak!” ledek Santi. Aku mencibir. Santi tahu kekuranganku, tidak bisa masak. Aku tidak bisa membedakan mana merica dan ketumbar. Kunyit, Lengkuas dan Jahe, aku juga tidak tahu. Benar-benar payah. Tapi kalau pelajaran kuliah, dia boleh mengandalkanku. Ehm…
            “Boleh, kapan maunya?” tantangku. Padahal aku hanya ingin mengajaknya menginap dirumahku, kita bisa curhat. Terus terang aku masih penasaran dengan sikap dinginnya  beberapa hari yang lalu.
            “Habis aku nyetrika baju ini ya!” putus Santi dan aku bersorak dalam hati.
***
            “Ini salahku, tidak seharusnya aku tinggal lama di rumah uni!” Santi memulai ceritanya. Aku surprise, belum kucoba mengorek rasa penasaranku, tapi ia sudah mau bercerita. Kuperhatikan wajahnya yang masih seperti dulu, putih dan cantik. Tapi mata itu seperti menyimpan gundah. Kudengarkan dengan serius.
            “Tapi kan dia  sepupumu!” potongku. Santi mengangguk.
            “Iya, tapi seharusnya aku tahu diri. Ya, setidaknya selama kos aku lebih tenang.” Santi terdiam sejenak, mengatur desahan nafasnya yang memburu karena menahan sesak.
            “Aku dan uni beda sepuluh tahun. Setelah menikah selama delapan tahun dan tidak mempunyai anak, aku tahu kalau perasaan uni tertekan dan…uni merasa cemburu dengan kehadiranku di sana. Suaminya kalau ada apa-apa minta pendapatku, entah itu masalah politik Indonesia ataupun sekedar menu masakan. Aku harus tahu diri ketika uni tidak meyapaku bahkan menghasut suaminya untuk ikut membenciku. Aku tidak bisa apa-apa dan kurasa keputusan ini adalah keputusan yang terbaik…!” ujar Santi perlahan. Cerita mengalir tenang dari bibirnya. Matanya berkaca-kaca. Tapi di sana kulihat ketegaran.
            “Apa yang dilakukan uni? Boleh aku tahu?” tanyaku hati-hati. Mata Santi menghujam langit-langit kamar yang jarang kubersihkan.
            “Aku dianggap tidak ada. Mereka kalau ngobrol hanya berdua…dan kalau aku ingin bergabung mereka diam,”. Hatiku ikut pedih mendengar pengakuan Santi. Aku merasakan bagaimana  menjadi orang yang tersisih.
            “Sejak kapan kamu merasa tidak nyaman dengan keadaan itui?” tanyaku perlahan. Aku takut pertanyaanku akan menyinggung perasaannya.
            “Semester dua,” suara Santi tercekat. Aku terhenyak, tidak menyangka dia bisa menyimpan semuanya begitu lama. Ya, tinggal dengan perasaan seperti itu selama satu tahun dan menyimpannya rapat-rapat dariku yang selalu mengaku sebagai sahabatnya. Aku tertegun tak tahu harus berbuat apa.
            “Dulu kamu sering cerita kalau malam suka ngobrol dengan uni sehingga sering kesiangan, aku pikir…,” kalimatku menggatung.
            “Ya, tapi hanya jawaban ya dan tidak yang aku terima. Saat itu aku mencoba bertahan karena akan ujian akhir,”
            “Kulihat uni baik waktu aku ke rumahmu,”
            “Uni memang baik dengan semua orang, tapi tidak denganku. Aku dianggap saingannya. Aku harap dengan kepergianku, uni bisa lebih baik,”. Aku menatap sahabatku yang sibuk mengeringkan air mata dengan tissue.
             Sahabat? Kata-kata itu begitu menohok hatiku. Sahabat macam apa aku yang tidak memahami keadaan sahabatnya sendiri. Atau aku memang sengaja tidak mau tahu  dan selalu menganggap masalahku lebih berat dari masalahnya. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, kadangkala manusia itu butuh teman untuk berbagi. Untuk menumpahkan segala resah hati. Aku tidak pernah memberi kesempatan kepada Santi untuk bercerita. Selalu aku yang mendominasi. Aku merasa Santi selalu ceria, tidak punya masalah dan...rasa bersalahku semakin menggumpal.
             Seharusnya aku sadar kalau Santi bersikap ceria hanya untuk membuatku tersenyum. Santilah yang sebenarnya sahabat, sedangkan aku? Sekali lagi aku merasa malu dengan Santi dan benar-benar iri.
             Ah, aku ingin benar-benar menjadi sahabatnya, sahabat yang tidak hanya mampu menuangkan semua permasalahannya, tapi juga mampu memahami kondisi sahabatnya. Yang bisa membedakan keceriaan dalam kesedihan dan memahami tertawa dalam tangis. Aku yakin aku bisa. Kutatap Santi. Santi menghapus tetesan air mata dengan ujung kelingkingnya. Bibirnya ditarik keatas. Sebuah senyuman hadir di sana.
            “Terima kasih ya, Nin,”
            Aku mengerutkan kening. “Terima kasih untuk apa?”
            “Semuanya. Untuk semua ketegaran, kesabaran dan kesediaanmu mendengarkan ceritaku . Aku banyak belajar darimu. Sekarang aku lega bisa berbagi denganmu!”
            “Ngeledek, aku kan cengeng dan nggak perhatian!” Kukelitik pinggang Santi. Dia histeris sambil berlari keluar kamar. Mama yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Keterangan:
Den indak amuah tau, bagi warisan kini atau ama tse nan pai dari siko: Saya tidak mau tahu, bagi warisan sekarang atau mama saja yang pergi dari sini
Tabek: Tambak
By: Puan
          Jakarta, 30 Maret 2004
Cerpen ini dimuat di majalah Muslimah tahun 2005

CERPEN

KOTAK AMAL YANTO


" DUKA YOGYA DUKA BERSAMA atau  PEDULI YOGYA yang keren ya?"tanya Yanto pada diri sendiri sambil sibuk mencoret-coret karton putih di hadapannya.
"Buat apaan sih Bang?"tanya Yanti adiknya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Yanto tersentak kaget tapi langsung mampu mengendalikan diri.
"Baca dong, baca! Masak udah mahasiswa masih aja nggak paham,"cerocos Yanto bikin kesel.
"Yanti tahu, tentang bencana di Yogya itu kan?"
"Lha, tahu kok nanya!"
"Memangnya siapa yang mau ke Yogya?"
"Sudah sana, bawel!"gertak Yanto membuat mulut gadis di depannya manyun, maju tiga centi. Sambil menghentak mahasiswi tingkat satu di Jakarta itu berlalu dari kamar Yanto. Yanto kembali sibuk dengan aktivitasnya.
"Ehm…beres,"wajahnya terlihat puas. Setelah membereskan kamarnya, Yanto memencet nomor hp yang sangat dikenalnya.
"Lo mau bantuin gue kan? Ok, fifty-fifty deh. Sampai besok ya!" Klik.
***
Siang yang panas. Yanto dan teman-temannya sudah mangkal di halte daerah Utan Kayu, Jakartas Timur. Tampangnya kusam karena seharian menunggui kotak amal buatannya.
"Lumayan, tadi gue lihat ada orang yang masukin uang lima ribuan, kaya besar kita, ha…ha…ha…!"Sobri tertawa keras.
"Sssttt…jangan keras-keras, ketahuan bisa runyam kita!"bisik Yanto sengit. Sobri masih tertawa tapi tidak sekeras tadi.
"Ide lo boleh juga," Yanto melambung dipuji begitu. Saat menyaksikan berita gempa di Yogya kemarin tiba-tiba terbersit keinginannya mendapatkan uang cuma-cuma. Cukup bermodal nekat dan kardus bekas Mie Instan.
"Sssttt…tuh banyak orang yang mau ke sini!"desak Yanto.
"Ok, bos!"Sobri tersenyum konyol. Selanjutnya dia sibuk menghampiri orang-orang yang berjalan ke halte sambil meneriakan,
"Bantuan untuk Yogya. Ayo bapak-bapak, ibu-ibu, tante-tante, om-om, silahkan berbagi. Sedikit harta yang kita sumbangkan sangatlah bermanfaat untuk kelangsungan hidup saudara-saudara kita di sana. Kalau tidak sekarang kapan lagi kita berbuat untuk kemanusiaan?"
Cring…recehan sampai lembaran dua puluh ribuan melayang masuk ke dalam kardus. Sobri masih saja mengoceh. Yanto tersenyum senang. Dalam urusan ini Sobri memang patut diacungkan jempol. Kemampuannya berkata-kata layak diandalkan.
"Lumayan To,"kata Sobri sambil menggoyang-goyangkan isi kardus yang semuanya uang. Halte sudah tidak begitu ramai lagi. Matahari sudah berganti tugasnya dengan rembulan. Pertengahan bulan ini purnama tampak gagah di atas sana.
"Lo hebat!"Yanto menepuk-nepuk bahu Sobri.
"Siapa dulu dong, Sobri bin Supardi, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas…,"
"Stop…stop…! Ke rumahku dulu ya, setelah dihitung baru kita bagi dua, gimana?"
"Turja, atur aja!"
***
         Sudah tiga hari Yanto dan Sobri melakukan aksi kemanusiaan "PEDULI YOGYA". Kali ini tempat mangkal mereka pindah ke jembatan penyebrangan di depan Terminal Depok. Alasannya sekedar variasi dan mencari suasana yang baru, biar orang-orang yang biasa mampir di halte nggak bosan tiap hari lihat tampang mereka. Kali ini mereka tidak harus teriak-teriak tapi cukup meletakkan kotak itu tidak jauh dari tempat lesehan mereka. Bersaing dengan  pengemis yang kelihatannya sudah lama menguasai tempat itu. Tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
"Banyak yang nggak nyebrang lewat sini To, tuh, mereka langsung nyebrang dari depan terminal!"tunjuk Sobri. Mata Yanto mengikuti arah telunjuk Sobri. Pejalan kaki menyebrang langsung tanpa lewat jembatan penyebrangan. Menjelang  sore mereka baru dapat sedikit itu karena yang lewat anak-anak ABG yang mau mejeng ke Plaza Depok.
"Wah, hari ini kita sial, dapat buat makan siang aja udah untung!"keluh Sobri.
"Besok kalau mau mangkal kita lihat situasi dulu biar nggak kayak sekarang!"kata Yanto sambil membereskan barang-barang mereka.
"Mau mampir ke rumah gue?"tawarnya. Sobri menggeleng.
"Gue langsung aja, lagian rumah gue dekat dari sini,"Sobri nyengir.
"Ya udah, sampai besok ya,"      
***
Yanto memasuki rumahnya dari pintu samping setelah terlebih dulu meletakkan kotak amalnya di gudang. Badannya bau peluh. Ingin rasanya langsung bertemu air dan mandi, membasahi raganya yang pasti sangat banyak kotoran ini. Tapi kerongkongannya haus. Niat ke kamar mandi ia urungkan. Di bukanya kulkas. Di ruang keluarga orangtuanya tampak serius menonton televisi.
"Gimana sih pemerintah, bencananya sudah tiga hari tapi bantuan belum ada yang sampai ke tangan yang berhak. Jangan-jangan di korupsi lagi!"cetus bapak.
"Sudah jelas itu Pak, lha wong pemerintah bilang sudah mengucurkan bantuan. Memangnya Yogya sejauh apa sih, sampai berhari-hari belum sampai juga,"kata ibu gemas. Mau tak mau Yanto ikut bergabung juga dengan diskusi menarik itu.
"Kenapa, Bu?" Ibu menoleh sebentar lalu kembali matanya menyorot tajam layar kaca.
"Kamu ya jadi mahasiswa harus sigap. Kalau ditunggu kinerja pemerintah kasihan yang kena bencana. Mereka sudah kelaparan, kedinginan, luka parah. Masak iya untuk membantu saja harus ngejlimet gitu urusannya. Aku yang bodoh atau pemerintah yang terlalu pintar ya Pak?"kata ibu nelangsa. Tiba-tiba Yanto merasa tertohok.
"Di DPR juga ributnya masalah pemberian nama, apakah ini bencana nasional atau nggak. Duh, kalau gini terus bagaimana mereka bisa ditangani dengan cepat?" Bapak menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa sekali-kali mereka ditimpa musibah dulu biar bisa ngerasain penderitaan orang?"tanya ibu kenes.
"Ya nggak gitu Bu, mungkin bantuannya aja yang belum merata, jadi dibesar-besarkan oleh pers,"Yanto berusaha meredam suasana yang sudah mulai panas.
"Lihat tuh lihat, truk-truk bantuan diserbu warga, kelihatan kan kalau mereka nggak dibuat-buat. Mereka benar-benar kelaparan. Jangan sampai warga yang masih hidup menyusul mereka yang sudah mati akibat reruntuhan!"mata ibu berkaca-kaca. Tak lama setetes bening mengalir di wajahnya yang mulai keriput.
"Ibu nggak bisa ngebayangin gimana kalau anak-anak ibu di sana,"isak ibu pelan. Bapak segera mematikan TV. Matanya juga sudah mulai merah.
"Kamu tahu di mana ibu bisa menyalurkan bantuan?"tanya ibu tiba-tiba. Yanto tergeragap.
"Sama Abang aja Bu, beberapa hari ini Yanti lihat Abang sibuk ngadain penggalangan  dana sama temannya!"seru Yanti yang ikutan berbaur. Yanto melotot ke arah adik bungsunya itu. Tapi Yanti melengos dan terus aja bicara.
"Hari ini kok Abang nggak ada lagi di halte dekat kampus Yanti?"pertanyaan Yanti membuatku seperti disambar geledek. Yanto baru ingat kalau halte tempat dia mangkal bersama Sobri untuk PEDULI YOGYA dekat dengan kampus adiknya itu. Yanto lupa, benar-benar lupa. Tadinya dia pikir tempat itu sudah paling jauh dari kampusnya di Senen dan rumahnya di Lenteng Agung.
"Oh, jadi kamu sudah punya inisiatif untuk membantu Yogya? Bagus-bagus. Kalau gitu lebih baik Bapak salurkan saja bantuan lewat kamu,"kata Bapak sambil menepuk-nepuk pundak Yanto. Matanya menyiratkan kebanggaan. Tapi membuat Yanto tidak berkutik dan seperti terhempas ke kubang kehinaan.
"Ibu juga punya baju-baju bekas layak pakai, nanti ibu kasih. Tadi siang sudah ibu pisahkan. Tak ibu sangka ternyata diam-diam kamu langsung bertindak,"ibu menatap Yanto lekat dengan senyuman khasnya. Yanti tersenyum-senyum. Yanto yakin dia tidak sengaja membuatku seperti ini, tepatnya tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya membuat Yanto seperti pesakitan.
"Nanti aja dilanjutkan lagi ya Pak, Bu. Yanto mau mandi dulu, gerah!"kata Yanto sambil berlalu ke kamar mandi.
Usai mandi pikiran Yanto menerawang. Bapak dan ibu masih menonton berita. Mereka baru beranjak setelah sajian berita di televisi usai, berganti dengan sinetron-sinetron picisan.
Dia meremas rambutnya untuk menghalau pusing yang mulai merayapi kepalanya. Badannya panas dingin mengingat harapan-harapan ibu dan bapak. Ditendangnya sudut kaki meja belajar.
"Aaooww…," Yanto menjerit kecil. Ring tone lagu Demi Waktu-nya Ungu mengalun dari ponsel Yanto. Sobri?
"Kapan? Besok? Boleh. Aku siap-siap malam ini!" Yanto segera berlari keluar kamar.
"Bu, baju untuk korban Yogya bisa dibungkusin sekarang?"
"Pak, kalau teman-teman bapak mau nyumbang, secepatnya ya. Besok jam sepuluh pagi aku dan teman kampusku berangkat ke Yogya," Mendengar kata-kata Yanto, Bapak, Ibu dan Yanti bergerak cepat. Tak terkecuali Iyah, pembantunya. Malu-malu ia menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Iyah, cuma bisa bantu segini, Mas," Mata Yanto memanas. Kembali terbayang di ingatannya uang pemberian orang-orang di halte yang sudah di hambur-hamburkannya. Makan-makan, beli kaset VCD. Padahal orang-orang yang memberikan sumbangan itu sangat berharap banyak bantuannya sampai kepada yang berhak. Ide gila yang harus ditembus dengan sejuta penyesalan. Yanto tidak mau orang tuanya tahu kalau anaknya punya bibit-bibit korupsi. Mahasiswa yang pandai berkoar hapuskan korupsi malah melakukan perbuatan bodoh itu. Mungkin Sobri sudah sadar, buktinya tadi dia mengajak Yanto jadi sukarelawan ke Yogya. Yanto nggak tahu kenapa Sobri cepat insyaf. Yanto nggak perlu tahu. Buktinya Yanto juga tersadar dengan percakapan ringan tadi. Apakah ini yang namanya hidayah? Tiba-tiba Yogya tempatnya KKN dulu sudah bermain diingatannya. Tiba-tiba Yanto merasa sangat dekat dengan kota kenangan itu. Yogya, I'Coming.
Jakarta, 31 Mei 2006
By: Puan
Cerpen ini dimuat di majalah Sabili tahun 2006